Scire nolo

Oleh : Bishop Dikson panjaitan,M.Div
Medan – sumutpost.com; sebuah ungkapan dan Perkataan Bung karno: Melawan Bangsa Sendiri”Dijajah bangsa sendiri” adalah ungkapan metaforis yang merujuk pada kondisi di mana rakyat atau suatu negara merasa dieksploitasi, dikuasai, atau dirugikan oleh kelompok, elit, atau bahkan kebijakan dari dalam negerinya sendiri, bukan oleh penjajah asing, penjajahan ini seringkali terjadi melalui korupsi, keserakahan, dan pengabaian terhadap kepentingan rakyat banyak, seperti yang diungkapkan oleh Soekarno bahwa perjuangan melawan bangsa sendiri akan lebih sulit daripada melawan penjajah luar.
Istilah ini sangat umum terjadi di negeri ini…”Scire nolo” adalah bahasa Latin yang berarti “aku tidak mau tahu”. Kata “scire” berarti “mengetahui” dan “nolo” berarti “aku tidak mau”. Jadi, secara harfiah, “scire nolo” adalah ekspresi yang kuat untuk mengekspresikan ketidakpedulian atau penolakan untuk mengetahui sesuatu. Masyarakat di negeri kita sering mengalami perlakuan dan ketidak adilan oleh karena para penyelenggara pemerintahan dan jajarannya tidak mau tau dengan rakyat, istilah Scire nolo kembali menggema di sanubari kita. Tatkala kita melihat perbedaan dan status sosial seolah berhasil kembali membangun kasta baru di jaman yang penuh dengan ketidak pastian ini.

Baca Juga  Open House GLKRI Penuh Kekeluargaan

Apa ubahnya jaman ini dengan jaman belanda? Bukankah dijaman belanda istilah scire nolo ini juga terjadi di mana-mana? Ada sebuah artikel singkat bagaimana dahulu para pekerja rodi di jawa, ada puluhan ribu mati karena kelaparan dan kekurangan gizi, di sisi lain dan dalam penulisan sejarah secara umum, bahwa belanda atau lebih spesifik gubernur Herman Willem Daendels (21 Oktober 1762 – 2 Mei 1818) adalah seorang perwira militer dan administrator kolonial Belanda yang menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda dari tahun 1808 hingga 1811, di cap sebagai orang yang paling bertanggung jawab, ternyata dikemudian waktu, sebuah catatan Herman Daendels ditemukan dan menjelaskan secara detail tentang upah buruh yang dibayarkan dan biaya makanan serta keperluan lainnya yang dibayarkan semua tercatat. Lalu siapa pelaku yang sebenarnya?

Baca Juga  Bantuan korban bencana dilempar saja dari Heli, beras terbuang ditanah

Mereka ada para bupati dan para mandor pada saat itu yang notabene adalah rakyat pribumi sendiri, mereka adalah manusia-manusia rakus dan korup yang sangat kontras dengan karakteristik scire nolo.

Sampai saat ini situasi ini terpelihara dengan rapi seolah terwarisi dan menggenerasi. imada!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *